TERJAGA Puisi Zhema Gemuruh bersahutan di cakrawala, Nampaknya hujan 'kan turun segera, Padahal Bumi t'lah terlampaui tirta, Mungkin Ilahi sedang mencoba, Kekuatan pelindungmu dari marabahaya? Sebab kau mulai melupa, Hak-hakNya kala napasmu sedia, Urai tangis sembari berdoa, Mohonkan rida serta berkahNya. Kenapa renjana buatmu duhaka? Kau gamang sejenak tiada, Raga dan ruh keruh seketika, Ketahuilah, benang takdirmu masih ada, Menantikanmu buka mata terjaga, Maka, genggamlah kepastian jiwa. "Segalanya ada masanya!" Tumbang Miri, 16 Juni 2026.
SINGGASANA KENANGAN Puisi Zhema Getaran di temaram pada jejak kekasih, Sibak tirai nan t'lah usang, Jiwapun himpun rekah renjana, Yang kukira pudar dimakan waktu. Ah, tidak! Upayaku sudah ranum, Ilusi ini bak tikaman belati, Di saat lengah tanpa perisai, Mundur, semayamlah di singgasanamu! Damai ini sudah kunikmati, Titian kita pun beralih arah, Bukankah ini benih pemikiranmu sendiri, Ulur benang takdir saat gebu kalbu? "Renungkanlah!" Tumbang Miri, 15 Juni 2026.