Langsung ke konten utama

Postingan

SINGGASANA KENANGAN

SINGGASANA KENANGAN Puisi Zhema Getaran di temaram pada jejak kekasih,  Sibak tirai nan t'lah usang,  Jiwapun himpun rekah renjana,  Yang kukira pudar dimakan waktu. Ah, tidak! Upayaku sudah ranum,  Ilusi ini bak tikaman belati, Di saat lengah tanpa perisai,  Mundur, semayamlah di singgasanamu! Damai ini sudah kunikmati, Titian kita pun beralih arah, Bukankah ini benih pemikiranmu sendiri, Ulur benang takdir saat gebu kalbu? "Renungkanlah!" Tumbang Miri, 15 Juni 2026.
Postingan terbaru

MUARA

MUARA Puisi Zhema _"Setiap kali aku mengingat pertemuan pertama kita, bahkan jika hidup diulang kembali, pada musim semi itu aku tetap ingin bertemu denganmu." — Lin Zhixiao, The Oath of Love_ Kau epigraf kopi pagiku, Aromaterapi saat resah rindu, Ungkap jejak kekasih dulu, Yang sirna di lorong waktu. Visual biasa baik-baik saja, Seakan tak sandang lara, Padahal debar liris beda, Kau rapuh dikepung rasa. Kasih, rehatlah sejenak ragu, Pada suratan buatmu kelu, Ada secercah asa beradu, Raih impian pasti dituju. Lantas, bila harap hampa, Siasati kembali cita-cita, Mungkin saja kau lupa, Doamu belum tepat muara. "Bersimpuhlah!" Tumbang Miri, 14 Juni 2026.

BAKA

BAKA Puisi Zhema  Aku masih berdiri di Savana, Pejamkan sesaat kedua mata, Rasakan sejenak sejuk udara, Riuh bahagia semesta fauna, Tertegun, kukerling pada dia, Sang bidadari elok rupanya, Hantarkan aroma pada jentera, Kaupun tertaut dalam gulana. Bak obat redakan nestapa, Rajutan kasih kau coba, Apakah esok senyum ada, Yang sejukkan hatimu senantiasa? Kekasih, satu hal kau lupa... Ikatan ini ada sejak baka, Pabila niatmu lepas renjana, Perkenankan kuucap sepatah kata, "Aku melepaskanmu..." Tumbang Miri, 13 Juni 2026.

NADIR

NADIR Puisi Zhema Tetes hujan membulir pada dedaunan, Kudekap diri dari dingin hembusan, Tersenyum pada napas yang kerap, Ada syukur nadir terucap. Lantas, kau kini limbung? Maju kukuh meski hatimu berdarah? Ketir pada senyum kekasih, 'Kan menawan sisi rapuhmu. Haruskah aku bertepuk tangan?  Dalam kabut gelisah kecewa, Sejauh ini kala tengadah ke langit, Mega berarak sampaikan doa, Bahwa kristal harap mulai lebur. Kita miliki harapan... Tumbang Miri, 12 Juni 2026.

PADA AMBANG RINDU

PADA AMBANG RINDU  Puisi Zhema Segenap hati kulangkahkan kaki, Menuju ambang rindu belenggu, Pada kekasih kian terpasung, Hingga napasnya sendiri sesak. Supaya jelas batas marka renjana, Suci terjaga sampai Dia rida, Meski kadang ego elak karam, Tetap saja akal kendali peran. Maka kutitip segala gelora, Pada langit yang tak pernah dusta, Biar waktu menjadi saksi, Bahwa cinta tak mesti memiliki. Sebab kasih yang lurus jalannya, Takkan merampas hak semesta, Ia bersabar dalam doa, Menanti takdir membuka pinta. Jika memang namamu tertulis, Pada lembar yang Tuhan gariskan, Kelak berjumpa tanpa tangis, Dalam halal yang menenteramkan. Tumbang Miri, 11 Juni 2026.

PANGLING

PANGLING Puisi Zhema Kerap hadir tanya begitu dalam, Di mana akal diri saat durja kuasa? Empaskan kilau kecerdasan yang lekat, Menjadi debu bertebaran putus asa. Apakah renjana genggam jiwamu? Kau linglung lalu pangling, Padahal itu sekadar delusimu semata, Bangunlah dari mimpi panjangmu, kasih! Tegaplah berdiri di antara dekap armor! Biarkan anak panahmu lesat, Tebas setiap inci batas waktu kaku, Kaulah raja untuk kerajaanmu sendiri. Meskipun kelak langkahmu tertatih, Usah desau risau terbeban, Aku 'kan selalu di sisimu, Sebagai napas bahkan aliran darahmu. Tumbang Miri, 9 Juni 2026.

DI ANTARA RINDU DAN RIDA

DI ANTARA RINDU DAN RIDA Puisi Zhema Senja, pada purba aku memujamu, Namun, tak sesiapapun kau sampaikan aksara rindu, Sebaris jelma paragraf atau sewacana yang biru, Bahwa rasa ini seharusnya milik prabu? Bukan harap yang memuai lalu sirna, Tetapi, ada alur drama kita lakoni di dunia, Dalam takdir yang menulis kita berbeda arah cerita, Meski diam-diam semesta tahu ada getar yang sama. Kita berdiri pada prinsip yang tak boleh retak, Menjaga janji-janji agar tak berubah rusak, Menahan desir yang berisiko menjadi petak, Sebab Tuhan lebih tinggi dari segala gejolak. Ada doa yang kita sembunyikan di dada, Bukan untuk saling memiliki secara fana, Melainkan agar hati tetap jernih terjaga, Meski rindu beriak seperti ombak samudra. Kita memilih tidak menjadi bara, Yang membakar rumah tangga dan jiwa-jiwa, Tak ingin cinta berubah jadi nestapa, Karena takut pada murka dan hukum-Nya. Maka sakit ini kita peluk sebagai cahaya, Pemantik jiwa agar tumbuh lebih bijaksana, Barangkali ini cinta Tuhan da...