SINGGASANA KENANGAN Puisi Zhema Getaran di temaram pada jejak kekasih, Sibak tirai nan t'lah usang, Jiwapun himpun rekah renjana, Yang kukira pudar dimakan waktu. Ah, tidak! Upayaku sudah ranum, Ilusi ini bak tikaman belati, Di saat lengah tanpa perisai, Mundur, semayamlah di singgasanamu! Damai ini sudah kunikmati, Titian kita pun beralih arah, Bukankah ini benih pemikiranmu sendiri, Ulur benang takdir saat gebu kalbu? "Renungkanlah!" Tumbang Miri, 15 Juni 2026.
MUARA Puisi Zhema _"Setiap kali aku mengingat pertemuan pertama kita, bahkan jika hidup diulang kembali, pada musim semi itu aku tetap ingin bertemu denganmu." — Lin Zhixiao, The Oath of Love_ Kau epigraf kopi pagiku, Aromaterapi saat resah rindu, Ungkap jejak kekasih dulu, Yang sirna di lorong waktu. Visual biasa baik-baik saja, Seakan tak sandang lara, Padahal debar liris beda, Kau rapuh dikepung rasa. Kasih, rehatlah sejenak ragu, Pada suratan buatmu kelu, Ada secercah asa beradu, Raih impian pasti dituju. Lantas, bila harap hampa, Siasati kembali cita-cita, Mungkin saja kau lupa, Doamu belum tepat muara. "Bersimpuhlah!" Tumbang Miri, 14 Juni 2026.