PANGLING Puisi Zhema Kerap hadir tanya begitu dalam, Di mana akal diri saat durja kuasa? Empaskan kilau kecerdasan yang lekat, Menjadi debu bertebaran putus asa. Apakah renjana genggam jiwamu? Kau linglung lalu pangling, Padahal itu sekadar delusimu semata, Bangunlah dari mimpi panjangmu, kasih! Tegaplah berdiri di antara dekap armor! Biarkan anak panahmu lesat, Tebas setiap inci batas waktu kaku, Kaulah raja untuk kerajaanmu sendiri. Meskipun kelak langkahmu tertatih, Usah desau risau terbeban, Aku 'kan selalu di sisimu, Sebagai napas bahkan aliran darahmu. Tumbang Miri, 9 Juni 2026.
DI ANTARA RINDU DAN RIDA Puisi Zhema Senja, pada purba aku memujamu, Namun, tak sesiapapun kau sampaikan aksara rindu, Sebaris jelma paragraf atau sewacana yang biru, Bahwa rasa ini seharusnya milik prabu? Bukan harap yang memuai lalu sirna, Tetapi, ada alur drama kita lakoni di dunia, Dalam takdir yang menulis kita berbeda arah cerita, Meski diam-diam semesta tahu ada getar yang sama. Kita berdiri pada prinsip yang tak boleh retak, Menjaga janji-janji agar tak berubah rusak, Menahan desir yang berisiko menjadi petak, Sebab Tuhan lebih tinggi dari segala gejolak. Ada doa yang kita sembunyikan di dada, Bukan untuk saling memiliki secara fana, Melainkan agar hati tetap jernih terjaga, Meski rindu beriak seperti ombak samudra. Kita memilih tidak menjadi bara, Yang membakar rumah tangga dan jiwa-jiwa, Tak ingin cinta berubah jadi nestapa, Karena takut pada murka dan hukum-Nya. Maka sakit ini kita peluk sebagai cahaya, Pemantik jiwa agar tumbuh lebih bijaksana, Barangkali ini cinta Tuhan da...