NADIR Puisi Zhema Tetes hujan membulir pada dedaunan, Kudekap diri dari dingin hembusan, Tersenyum pada napas yang kerap, Ada syukur nadir terucap. Lantas, kau kini limbung? Maju kukuh meski hatimu berdarah? Ketir pada senyum kekasih, 'Kan menawan sisi rapuhmu. Haruskah aku bertepuk tangan? Dalam kabut gelisah kecewa, Sejauh ini kala tengadah ke langit, Mega berarak sampaikan doa, Bahwa kristal harap mulai lebur. Kita miliki harapan... Tumbang Miri, 12 Juni 2026.
PADA AMBANG RINDU Puisi Zhema Segenap hati kulangkahkan kaki, Menuju ambang rindu belenggu, Pada kekasih kian terpasung, Hingga napasnya sendiri sesak. Supaya jelas batas marka renjana, Suci terjaga sampai Dia rida, Meski kadang ego elak karam, Tetap saja akal kendali peran. Maka kutitip segala gelora, Pada langit yang tak pernah dusta, Biar waktu menjadi saksi, Bahwa cinta tak mesti memiliki. Sebab kasih yang lurus jalannya, Takkan merampas hak semesta, Ia bersabar dalam doa, Menanti takdir membuka pinta. Jika memang namamu tertulis, Pada lembar yang Tuhan gariskan, Kelak berjumpa tanpa tangis, Dalam halal yang menenteramkan. Tumbang Miri, 11 Juni 2026.