DI ANTARA RINDU DAN RIDA Puisi Zhema Senja, pada purba aku memujamu, Namun, tak sesiapapun kau sampaikan aksara rindu, Sebaris jelma paragraf atau sewacana yang biru, Bahwa rasa ini seharusnya milik prabu? Bukan harap yang memuai lalu sirna, Tetapi, ada alur drama kita lakoni di dunia, Dalam takdir yang menulis kita berbeda arah cerita, Meski diam-diam semesta tahu ada getar yang sama. Kita berdiri pada prinsip yang tak boleh retak, Menjaga janji-janji agar tak berubah rusak, Menahan desir yang berisiko menjadi petak, Sebab Tuhan lebih tinggi dari segala gejolak. Ada doa yang kita sembunyikan di dada, Bukan untuk saling memiliki secara fana, Melainkan agar hati tetap jernih terjaga, Meski rindu beriak seperti ombak samudra. Kita memilih tidak menjadi bara, Yang membakar rumah tangga dan jiwa-jiwa, Tak ingin cinta berubah jadi nestapa, Karena takut pada murka dan hukum-Nya. Maka sakit ini kita peluk sebagai cahaya, Pemantik jiwa agar tumbuh lebih bijaksana, Barangkali ini cinta Tuhan da...
JANJI DI LANGIT AZALI Puisi Zhema Sekian purnama api nyalakan rindu yang dilemma buas, Tak pernah sua diri dalam kenaifan lepas, Sedangkan semesta genggam rahasia renjana bias, Pada dua ruh yang t'lah saling mengenal napas. Di lengang azali sebelum aksara ditulis, Kita pernah menyatu tanpa bayang yang mengiris, Cahaya purba menenun ikrar yang lirih dan tipis, Menautkan dua hakikat dalam hening yang magis. Lalu bumi menjelma musim yang temaram, Menurunkan kabut pada jalan yang terpendam, Satu jiwa berlabuh pada dermaga yang diam, Yang lain menyimpan desir pada relung terdalam. Keyakinan berdiri bagai dinding menjulang tinggi, Memisah arah sembah pada langit yang diyakini, Doa terbang dari kiblat yang tak lagi seirasi, Meski getar batin tetap saling menghampiri. Kita meniti garis samar penuh pertaruhan, Menjaga nurani dari goda yang bertebaran, Menghormati ikrar yang telah lebih dulu ditautkan, Meski dada kerap diguncang kerinduan tertahan. Perasaan itu bagai cahaya redup di ufuk s...