PADA AMBANG RINDU Puisi Zhema Segenap hati kulangkahkan kaki, Menuju ambang rindu belenggu, Pada kekasih kian terpasung, Hingga napasnya sendiri sesak. Supaya jelas batas marka renjana, Suci terjaga sampai Dia rida, Meski kadang ego elak karam, Tetap saja akal kendali peran. Maka kutitip segala gelora, Pada langit yang tak pernah dusta, Biar waktu menjadi saksi, Bahwa cinta tak mesti memiliki. Sebab kasih yang lurus jalannya, Takkan merampas hak semesta, Ia bersabar dalam doa, Menanti takdir membuka pinta. Jika memang namamu tertulis, Pada lembar yang Tuhan gariskan, Kelak berjumpa tanpa tangis, Dalam halal yang menenteramkan. Tumbang Miri, 11 Juni 2026.
PANGLING Puisi Zhema Kerap hadir tanya begitu dalam, Di mana akal diri saat durja kuasa? Empaskan kilau kecerdasan yang lekat, Menjadi debu bertebaran putus asa. Apakah renjana genggam jiwamu? Kau linglung lalu pangling, Padahal itu sekadar delusimu semata, Bangunlah dari mimpi panjangmu, kasih! Tegaplah berdiri di antara dekap armor! Biarkan anak panahmu lesat, Tebas setiap inci batas waktu kaku, Kaulah raja untuk kerajaanmu sendiri. Meskipun kelak langkahmu tertatih, Usah desau risau terbeban, Aku 'kan selalu di sisimu, Sebagai napas bahkan aliran darahmu. Tumbang Miri, 9 Juni 2026.