NADIR
Puisi Zhema
Tetes hujan membulir pada dedaunan,
Kudekap diri dari dingin hembusan,
Tersenyum pada napas yang kerap,
Ada syukur nadir terucap.
Lantas, kau kini limbung?
Maju kukuh meski hatimu berdarah?
Ketir pada senyum kekasih,
'Kan menawan sisi rapuhmu.
Haruskah aku bertepuk tangan?
Dalam kabut gelisah kecewa,
Sejauh ini kala tengadah ke langit,
Mega berarak sampaikan doa,
Bahwa kristal harap mulai lebur.
Kita miliki harapan...
Tumbang Miri, 12 Juni 2026.

Komentar
Posting Komentar