DI ANTARA RINDU DAN RIDA
Puisi Zhema
Senja, pada purba aku memujamu,
Namun, tak sesiapapun kau sampaikan aksara rindu,
Sebaris jelma paragraf atau sewacana yang biru,
Bahwa rasa ini seharusnya milik prabu?
Bukan harap yang memuai lalu sirna,
Tetapi, ada alur drama kita lakoni di dunia,
Dalam takdir yang menulis kita berbeda arah cerita,
Meski diam-diam semesta tahu ada getar yang sama.
Kita berdiri pada prinsip yang tak boleh retak,
Menjaga janji-janji agar tak berubah rusak,
Menahan desir yang berisiko menjadi petak,
Sebab Tuhan lebih tinggi dari segala gejolak.
Ada doa yang kita sembunyikan di dada,
Bukan untuk saling memiliki secara fana,
Melainkan agar hati tetap jernih terjaga,
Meski rindu beriak seperti ombak samudra.
Kita memilih tidak menjadi bara,
Yang membakar rumah tangga dan jiwa-jiwa,
Tak ingin cinta berubah jadi nestapa,
Karena takut pada murka dan hukum-Nya.
Maka sakit ini kita peluk sebagai cahaya,
Pemantik jiwa agar tumbuh lebih bijaksana,
Barangkali ini cinta Tuhan dalam rupa luka,
Agar kita pulang kepada-Nya dengan hati yang lebih dewasa.
Jika bukan bersama di dunia yang sementara,
Mungkin di taman abadi tanpa cela,
Saat tak ada lagi dinding dan batas bernama dosa,
Dan renjana pun suci dalam ridha-Nya.
Tumbang Miri, 4 Maret 2026.

Komentar
Posting Komentar