JANJI DI LANGIT AZALI
Puisi Zhema
Sekian purnama api nyalakan rindu yang dilemma buas,
Tak pernah sua diri dalam kenaifan lepas,
Sedangkan semesta genggam rahasia renjana bias,
Pada dua ruh yang t'lah saling mengenal napas.
Di lengang azali sebelum aksara ditulis,
Kita pernah menyatu tanpa bayang yang mengiris,
Cahaya purba menenun ikrar yang lirih dan tipis,
Menautkan dua hakikat dalam hening yang magis.
Lalu bumi menjelma musim yang temaram,
Menurunkan kabut pada jalan yang terpendam,
Satu jiwa berlabuh pada dermaga yang diam,
Yang lain menyimpan desir pada relung terdalam.
Keyakinan berdiri bagai dinding menjulang tinggi,
Memisah arah sembah pada langit yang diyakini,
Doa terbang dari kiblat yang tak lagi seirasi,
Meski getar batin tetap saling menghampiri.
Kita meniti garis samar penuh pertaruhan,
Menjaga nurani dari goda yang bertebaran,
Menghormati ikrar yang telah lebih dulu ditautkan,
Perasaan itu bagai cahaya redup di ufuk senja,
Tak pernah padam namun tak pula menyala nyata,
Maka keduanya memilih diam sebagai bahasa,
Menitipkan harap pada Yang Maha Membaca,
Bila bukan di bumi tempat luka bersemi bersama,
Di taman kekal tanpa batas dan prasangka,
Tanpa sekat yang memisah rasa,
Dua ruh kembali saling menyapa,
Dalam bahagia utuh yang tak terhingga.
Tumbang Miri, 1 Maret 2026.
Sekian purnama api nyalakan rindu yang dilemma buas,
Tak pernah sua diri dalam kenaifan lepas,
Sedangkan semesta genggam rahasia renjana bias,
Pada dua ruh yang t'lah saling mengenal napas.
Di lengang azali sebelum aksara ditulis,
Kita pernah menyatu tanpa bayang yang mengiris,
Cahaya purba menenun ikrar yang lirih dan tipis,
Menautkan dua hakikat dalam hening yang magis.
Lalu bumi menjelma musim yang temaram,
Menurunkan kabut pada jalan yang terpendam,
Satu jiwa berlabuh pada dermaga yang diam,
Yang lain menyimpan desir pada relung terdalam.
Keyakinan berdiri bagai dinding menjulang tinggi,
Memisah arah sembah pada langit yang diyakini,
Doa terbang dari kiblat yang tak lagi seirasi,
Meski getar batin tetap saling menghampiri.
Kita meniti garis samar penuh pertaruhan,
Menjaga nurani dari goda yang bertebaran,
Menghormati ikrar yang telah lebih dulu ditautkan,
Meski dada kerap diguncang kerinduan tertahan.
Perasaan itu bagai cahaya redup di ufuk senja,
Tak pernah padam namun tak pula menyala nyata,
Ia hidup dalam diam yang tak meminta,
Sekadar bernaung di antara doa-doa.
Sekadar bernaung di antara doa-doa.
Maka keduanya memilih diam sebagai bahasa,
Menitipkan harap pada Yang Maha Membaca,
Bila bukan di bumi tempat luka bersemi bersama,
Semoga di keabadian kelak tiada lagi jeda.
Di taman kekal tanpa batas dan prasangka,
Tanpa sekat yang memisah rasa,
Dua ruh kembali saling menyapa,
Dalam bahagia utuh yang tak terhingga.
Tumbang Miri, 1 Maret 2026.

Komentar
Posting Komentar